Sejarah Kami

Umat Katolik Panggung Angkatan Pertama (1966 – 1980)

Sekitar tahun 1966, seorang pendatang bernama bapak Agustinus Suhardi tergerak hatinya untuk mewartakan kabar keselamatan di desa Panggung bersama dengan bapak SI. Sutrisno, AS, seorang katekis dari Plombokan. Keduanya memberikan pelajaran agama bagi warga yang berminat menjadi Katolik. Upaya mereka ditanggapi secara positif, sehingga ada 6 (enam) keluarga, yang terdiri dari 23 orang, telah dibaptis di Gereja Katedral pada bulan Agustus 1968 oleh Romo Yohanes Obroes H. Padmasepoetro, Pr. Mereka tercatat sebagai baptisan pertama di desa Panggung Peres. Selanjutnya, bulan Maret tahun 1969, Romo Gabriel Notobudyo, Pr kembali membaptis 2 (dua) keluarga yang terdiri dari 5 orang. 

Menjelang tahun 1970, bersamaan dengan datangnya umat dari tempat lain, jumlah umat Katolik di desa ini berkembang pesat. Kemudian, Romo Paroki Katedral menetapkan umat Katolik desa Panggung, yang semula menjadi bagian dari wilayah Banowati-Plombokan, menjadi wilayah tersendiri dengan nama Wilayah Panggung Peres. Merekalah, sekitar 20 KK, yang menjadi cikal bakal Gereja Hati Kudus Yesus Tanah Mas. Pamong wilayah pertama adalah bapak St. Doni.

Pada tahun 1973, dimulailah pembangunan kawasan Tanah Mas Real Estate dengan lokasi di sebelah wilayah Panggung Peres. Perkembangannya cukup pesat, sebab banyak pendatang baru tergiur untuk bermukim di sini, termasuk orang-orang yang beriman Katolik. Pertumbuhan umat Katolik di kawasan ini sangat pesat, sehingga jumlahnya melebihi jumlah umat wilayah Panggung Peres. Kemudian, pamong wilayah menyampaikan usulan kepada Romo Paroki Katedral agar dibentuk wilayah-wilayah baru untuk kawasan Tanah Mas. Gayung pun bersambut. Dewan Paroki Katedral masa bakti 1979-1982 mengubah nama wilayah Panggung Peres menjadi wilayah Panggung Tanah Mas, yang membawahi 7 (tujuh) blok, yaitu Tambak Mas, Beton Mas, Panggung Mas, Tanah Mas, Pasir kali Mas, Tanggul Mas, dan Panggung Peres. Sampai akhir Desember 1980, umat Katolik yang resmi terdaftar di wilayah ini berjumlah 280 KK, yang terdiri dari sekitar 1000 orang. Pamong wilayah pertama adalah bapak Agustinus Sudariyanto (sebelumnya pamong wilayah Panggung Peres).

 

Pembangunan Gedung Gereja (1980 – 1986)
Kegiatan pembangunan Rumah Tuhan dirintis pada periode ini. Pembangunan tahap I (1980- 1983) dimulai dengan membangun Wisma Kurnia, sebuah bangunan kecil yang menjadi pusat kegiatan umat. Peletakan batu pertama dilakukan pada hari Minggu, tanggal 23 Mei 1982 pukul 10.00 WIB oleh Bapak Yustinus Kardinal Darmoyuwono. Pembangunan selesai pada tahun 1983 dan diresmikan oleh Romo Alexander Djayasiswaya, Pr, selaku Romo Kepala Paroki, dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu, tanggal 15 Mei 1983. Jumlah umat di akhir tahun 1982 tercatat sekitar 350 KK. 

Pembangunan Tahap II (1983-1986) diselesaikan pembangunan Gereja Hati Kudus Tanah Mas pertama, yang berlokasi di jalan Tanggul Mas Raya 25, di sebelah Wisma Kurnia. Pembangunan itu sendiri telah selesai secara tuntas pada tahun 1985. Hal ini dapat terjadi karena keguyuban umat yang memberikan bantuan, baik dana maupun material bangunan, serta berbagai barang yang terkait dengan sarana peribadatan seperti salib dan meja altar, tabernakel, salib menara (neon sign), bermacam-macam paramenta. Sekarang, bangunan tersebut telah dipugar atau direnovasi menjadi Wisma Hati Kudus sebagai Gedung Paroki.

Perkembangan umat kawasan Tanah Mas dan Sampangan begitu cepat yang menjadikan pengurus Dewan Paroki Katedral masa bakti 1982- 1985 memutuskan untuk menambah 2 (dua) rayon baru, yaitu Rayon Hati Kudus (Panggung – Tanah Mas), dan Rayon Santo Paulus (Sampangan). Pada hari Jumat, tanggal 6 Juni 1986, tepat pada Hari Raya Hati Yesus Yang Maha Kudus, bangunan gereja diresmikan oleh Walikota Semarang, bapak H. Imam Soeparto Tjakrajoeda, dan diberkati oleh Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ, Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang, dalam upacara sangat meriah. Pada event yang sangat monumental itu berlangsung pula pemberian sakramen Baptis untuk pertama kalinya di gereja ini bagi 7 (tujuh) orang.

 

Kegiatan Peribadatan Umat (1986 – 1994)
Usai diberkati dan diresmikan, gereja tidak pernah sepi dari berbagai kegiatan, misalnya perayaan Ekaristi, pemberkatan/penerimaan sakramen, upacara sabda lainnya. Awalnya, perayaan Ekaristi diselenggarakan pada hari Minggu sore, pukul 17.00 WIB. Kemudian, di akhir tahun 1986, perayaan Ekaristi dilaksanakan 2 (dua) kali seminggu: Minggu pagi, pukul 07.00, dan Minggu sore, pukul 17.00 WIB.

Pada bulan Oktober tahun 1986, 4 (empat) bulan setelah pemberkatan gereja Tanah Mas, dilakukan penerimaan sakramen Penguatan untuk pertama kalinya. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan pertemuan Pengurus Gereja beserta Pamong Wilayah dengan Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang di salah satu ruangan kelas SD Theresiana (selanjutnya menjadi ruang serbaguna). Sejak itu, setiap 2 (dua) tahun sekali Uskup Agung Kkeuskupan Agung Semarang atau Romo Vikjen KAS berkenan menerimakan sakramen Penguatan di gereja ini.

Sakramen Perkawinan yang pertama kalinya terselenggara di gereja ini terjadi pada tanggal 1 Agustus 1986, oleh Romo Johannes Harjoyo, Pr selaku Romo Kepala Paroki Katedral. Pasangan mempelai yang berbahagia itu adalah Sdr. Andan Krisanjaya dengan Sdri. Theresia Kori Sambenthiro dari wilayah Tambak Mas. Pasangan ini merupakan nomor urut 1 dalam Buku Perkawinan Gereja.

Pada tahun 1987, istilah “rayon” berganti menjadi “wilayah” dan “wilayah” menjadi “lingkungan”. Selanjutnya, wilayah Hati Kudus dikoordinir oleh ketua wilayah, sekaligus menjadi ketua pengurus gereja, yang dilengkapi dengan bidang dan seksinya seperti sie Liturgi, Koinonia, Diakonia, dan Kerygma, mirip seperti di Paroki Katedral.

Pada tahun 1990, jumlah umat Katolik wilayah Tanah Mas tercatat sebanyak 791 KK, yang terdiri dari sekitar 2800 orang. Perayaan Ekaristi pada hari Sabtu sore mulai diadakan pada akhir tahun 1991, setelah lustrum I Gereja Hati Kudus Yesus Tanah Mas, yang dimotori oleh Romo Aloysius Hantara, Pr sehingga perayaan Ekaristi Mingguan berlangsung 3 (tiga) kali, yaitu Sabtu sore, Minggu pagi, dan Minggu sore. Selain itu, di gereja ini telah terselenggara pula penerimaan Sakramen Baptis, Perkawinan, Krisma, dan lain-lain, sehingga banyak suara, termasuk para Romo, yang menyatakan wilayah Tanah Mas layak menjadi Kuasi Paroki, meski kenyataannya masih merupakan 1 (satu) dari 6 (enam) wilayah Paroki Katedral.

Pada kepengurusan Dewan Paroki Katedral periode 1991-1994, Hati Kudus Tanah Mas dikembangkan menjadi 3(tiga) wilayah, sebab jumlah lingkungannya bertambah, yang semula 11 (sebelas) lingkungan berkembang menjadi 18 (delapan belas) lingkungan. Ketua Wilayah sebelumnya, bapak Agustinus Sudariyanto, diberi tugas menjadi koordinator wilayah (korwil) dan sekaligus ketua pengurus Gereja Hati Kudus Tanah Mas, yang berfungsi sebagai salah satu anggota Dewan Harian Paroki Katedral periode 1991-1994. Sebagai catatan, program pembangunan tahap III (1986-1995) adalah upaya menambah atau memperluas tanah gereja sebagai persiapan pembangunan tahap IV yang berlangsung pada periode kepengurusan berikutnya.

 

Baca Selengkapnya